"Jazz is the best"
Jazzman

  • Roberta Gambarini

    vokal
    30 November, 1972 (?), Turino, Italia

    (c) Photo: Juan Carlos Hernandez.

    Roberta Gambarini adalah seorang penyanyi jazz pendatang baru yang namanya saat kini tengah melejit dan cukup disegani, baik oleh para kritisi, pemusik senior, dan tentu saja para penggemarnya.

    Dilahirkan di kota Turino, Italia. Mulai mempelajari alat tiup klarinet di usia sebelas tahun. Karier di dunia vokal ia awali saat ia berusia tujuh belas tahun, dengan menyanyi di klab-klab jazz yang bertebaran di wilayah Utara Italia. Baru setahun kemudian, setelah ia hijrah ke kota Milano, namanya mulai dikenal di negaranya. Berkat ilmu yang diperolehnya di Berklee College of Music di kota Boston, AS dan mencoba peruntungannya di kota New York, namanya pun mulai dikenal di daratan Amerika.

    Terlebih sejak dirilis album perdananya di daratan Amerika, Easy To Love pada tahun 2006, yang langsung menarik perhatian para kritikus musik dan pemusik jazz yang lebih mengidentikkan musik jazz sebagai warisan seni Afrika-Amerika yang tak ternilai, yang semakin hari semakin menyusut penghargaan masyarakat musik di Amerika, yang kini umumnya lebih menyukai musik pop elektronik dan musik country.

    Berawal dengan mencoba menyanyikan setiap solo dari permainan instrumen dari tiga maestro; Dizzy Gillespie, Sonny Stitt dan Sonny Rollins pada album Dizzy Gillespie Sonny Side Up (Verve, 1957) yang komplek dan rumit ini, Gambarini berhasil membawakannya dengan penuh penguasaan, akurat dan santai. Hal ini yang membuat salah seorang legenda hidup dalam musik jazz, Hank Jones secara terbuka, walau terkesan berlebihan, menobatkan Roberta Gambarini sebagai pendatang baru terbaik dalam dunia vokal jazz untuk kurun waktu lima puluh tahun terakhir, atau dengan kata lain, Gambarini akan hadir sebagai pengganti para vokalis jazz diva seperti Ella Fitzgerald dan Sarah Vaughan.

    Pendeknya, Roberta Gambarini mampu mengangkat profesi penyanyi jazz ke tingkatan yang, kalau boleh dikatakan, lebih tinggi. Mungkin ini dikarenakan ia sudah berpikir dan berlagu layaknya seorang pemain instrumen jazz. Salahsatu pengaruh terbesar dalam menjadikan ia seperti itu adalah; Louis Armstrong, orang pertama yang memiliki kemampuan bersolo ria dalam setiap kesempatan, baik dengan trumpetnya maupun dengan vokalnya, dalam sejarah musik dunia.

    Gambarini tidak hanya ingin terdengar seperti seorang pemain instrumen, tapi ia telah “berpikir” seperti layaknya para pemusik jazz besar berpikir; Louis Armstrong, Charlie Parker dan John Coltrane.

    Gambarini hijrah ke Amerika Serikat pada tahun 1998, di tahun yang sama ia meraih juara ke-tiga pada Thelonious Monk Institute of Jazz Vocal Competition, di bawah Jane Monheit dan Tierney Sutton. Hal yang banyak menimbulkan pertanyaan di benak para pengikut dan pengamat perkembangan khasanah jazz vokal saat itu.

    Gambarini pernah tampil tour dunia bersama para nama besar jazz seperti Herbie Hancock, Christian McBride, dan Toots Thielemans. Pada tahun 2004, ia mulai tampil dalam tur Dizzy Gillespie All Star Big Band, tampil bersama dengan James Moody, Frank Wess, Jimmy Heath, Paquito de Rivera, Roy Hargrove, dan lain lain. Tahun 2006 dan 2007 ia mulai tampil bersama trionya, juga dengan Hank Jones trio. Tahun 2006, Groovin High label merilis debut albumnya di daratan Amerika, Easy to Love, yang berhasil memperoleh nominasi sebagai Best Jazz Album pada Penghargaan Grammy tahun 2007. Di tahun ini pula ia dinominasikan sebagai Penyanyi Jazz Terbaik pada Anugrah Jazz Italia (Italian Jazz Awards).

    D I S K O G R A F I :

    – Easy To Love (Kindred Rhythm, 2006)
    – You Are Ther (EmArcy, 2008)
    – So In Love (EmArcy, 2009)


    Talenta

  • Peirani Parisien di Festival I Suoni delle Dolomiti

    Video pertunjukan duo Peirani Parisien di Buse di Tresca (ketinggian 2200 m), saat berlangsung pertunjukan Festival I Suoni delle Dolomiti.


    Galeria, Video

  • Jazz Break Revival XX

    23/02/10. Klab Jazz, bekerjasama dengan B. P. Bumi Sangkuriang dan Melinda Hospital kembali akan menyelenggarakan pertemuan bulanan Jazz Break Revival. Kali ini memasuki Edisi ke-XX.
    | Selengkapnya…


    Agenda, Poster

  • Roy Hargrove

    Roy Anthony Hargrove
    trompet
    Waco, Texas, AS, 16-10-1969

    Pernah dijuluki anak ‘hard bop’ ajaib. Pertama kali tampil ke permukaan pada tahun 1987 ketika ia diajak untuk bergabung kelompoknya Wynton Marsalis. Wynton pertama kali menyaksikan trompetis remaja berusia 17 tahun, yang konon mempunyai ‘sound’ kombinasi trompetis legendaris Clifford Brown dan Freddie Hubbard ini pada saat Hargrove bermain di SMA Booker T. Washington di kota Dallas, Texas. Wynton langsung mengajaknya serta dalam tur Caravan of Dreams-nya di klub Fort Worth. Tidak lama kemudian ia pun melanglang buana bersama Wynton, di antaranya tampil di North Sea Jazz Festival, di musim panas 1987.

    Pendeknya ia mulai banyak mendengar, menghayati kehidupan, bertukar pendapat dan sekali kali tukar menukar pengetahuan bersama musisi musisi jazz ternama, di antaranya bersama peniup alto Bobby Watson.

    Roy Hargrove adalah jebolan sekolah musik Berklee College of Musicberkat hadiah bea siswa senilai $5.000 yang diperolehnya melalui program Musicfest U.S.A 1987 (tercatat juga nama nama pianis/organis Joey DeFrancesco dan bassist Christian McBridesebagai pemenangnya) yang diselenggarakan oleh majalah jazz Down Beat dimana ia hadir mewakili SMAnya, SMA Arts Magnet, di Dallas, Texas. Ia pun menerima “Student Music Award” sebagai solois terbaik dari majalah Down Beat tahun sebelumnya. Disusul kemudian dariNew School’s Jazz and Contemporary Music Program di kota New York.

    Roy Hargrove merilis album solo perdananya pada tahun 1990 denganDiamond in the Rough melalui perusahaan rekam Novus. Di antaranya ia dibantu oleh sesama macan macan muda, baik jebolan grupnya Wynton maupun grupnya mendiang drummer akbar, Art Blakey bersama The Messenger-nya seperti peniup alto Antonio Hart, pianis Geoffrey Keezer, bassit Charles Fambrough, di samping tampil juga para pejazz senior seperti pianis John Hicks dan drummer
    Al Foster.

    Pada tahun 1992 Hargrove mendirikan sebuah quintet. Awalnya bersama altois Antonio Hart tidak lama kemudian digantikan Justin Robinson yang mantan The Harper Brothers, dan kemudian digantikan Ron Blake, yang lainnya adalah pianis Marc Cary, bassist Rodney Whitaker dan drummer Gregory Hutchinson. Salahsatu album yang sempat ia rilis, di antaranya The Tenors of Our Time pada tahun 1994, dimana ia tampil bersama lima jawara peniup tenor; Joe Henderson, John Griffin, Stanley Turrentine, Joshua Redman dan Branford Marsalis.

    Seperti rekan seusianya, Christian McBride, yang bereksperimen dengan musik pop elektrik, Roy Hargrove pun mendirikan The RH Factor. Kelompok yang seperti dilakukan oleh trumpetis senior Miles Davis, berhasil melebarkan namanya ke dunia musik non jazz. Di luar bebop, ia pun tercatat pernah menyumbangkan permainannya untuk album-album Eryka Badu dan D’Angelo.
    :: ROY HARGROVE PHOTO BY LARRY FAVRIOT

    D I S K O G R A F I :

    Sebagai Leader:
    1. Diamond in the Rough (Novus, 1989)
    2. Public Eye (Novus, 1990)
    3. Tokyo Sessions (Novus, 1991)
    4. The Vibe (Novus, 1992)
    5. Of Kindred Souls (Live) (Novus, 1993)

    6. With the Tenors of Our Time (Verve, 1994)
    7. Approaching Standards (Jive/Novus, 1994)
    8. Family (Verve, 1995)
    9. Parker’s Mood Trio b/ Christian McBride (bass), dan Stephen Scott (piano)(Verve, 1995)
    10. Crisol: Habana (Verve, 1997)

    11. Moment to Moment (Verve, 2000)
    12. Nothing Serious The Roy Hargrove Quintet (Verve, 2006)
    13. Ear Food [The Roy Hargrove Quintet] (Emarcy, 2008)
    14. Emergence [The Roy Hargrove Big Band] (Emarcy, 2009)
    b/ RH Factor
    1. 2003: Hard Groove (Verve) [1]
    2. 2004: Strength (Verve)
    3. 2006: Distractions (Verve)

    :: Dwi Cahya Yuniman


    Talenta

  • JazzSphere@ArtSpace feat. simakDialog | 2004 10 04

    Selasar Sunaryo Artspace
    Jl. Bukit Pakar Timur no. 100

    Setelah sebelumnya mengalami pengunduran waktu penyelenggaraan yang rencananya akan diselenggarakan tanggal 12 September, jazzsphere@artspace akhirnya berhasil diselenggarakan dengan tanpa halangan yang berarti pada hari Minggu, tanggal 2 Oktober 2004.
    :: Desain Poster yang disiapkan oleh Klab Jazz namun tidak jadi digunakan.

    ASAL MUASAL
    Berawal dari keinginan Pak Sunaryo yang menginginkan ada penyelenggaraan musik yang sifatnya apresiasi di Selasar Sunaryo Art Space, pada pertengahan bulan Juni 2004 Pak Sunaryo menghubungi KlabJazz untuk mencari tahu apakah KlabJazz dapat membantu usaha atau keinginan di atas tersebut.

    KlabJazz yang telah lama mengidamkan tempat di Selasar Sunaryo Art Space (khususnya Amphitheater) untuk penyelenggaraan jazz sejak tahun 1998, tanpa pikir panjang langsung menyanggupinya. Pada pertemuan pertama ini dilontarkan kriteria-kriteria bagi artis yang akan bermain; akustik, populer dan dana terjangkau. Kriteria ke-4 yang ada dalam benak KlabJazz, walau tidak jelas-jelas diungkapkan adalah: apresiatif.

    PROSES MELOBI
    Setelah hampir 2 bulan KlabJazz belum juga memperoleh kepastian tentang siapa yang akan ditampilkan, satu dari tiga nama yang KlabJazz hubungi akhirnya memberikan jawaban. Mereka adalah simakDialog.

    PRA PENYELENGGARAAN

    simakDialog adalah sebuah kelompok jazz yang telah berdiri sejak tahun 1993. Jalur musik jazznya pada saat berdiri akrab dikenal dengan fusion. Memadukan elemen-elemen musik jazz dengan musik jazz Eropa atau yang umum dikenal dengan new age dengan di sana-sini disisipi sedikit elemen-elemen musik rock, pop dan musik tradisi. Elemen musik tradisi simakDialog pada tahun-tahun terakhir terasa semakin kental dengan digunakannya instrumen musik Sunda yaitu kendang ke dalam format musik mereka. Kendang di sini tidak sekedar digunakan sebagai pemanis tetapi sudah digunakan sebagai instrumen utama. Hal ini terlihat dari tidak digunakannya instrumen drum samasekali. Terlebih lagi pemusik yang diajak untuk mengisi posisi ini adalah seorang musisi yang memang menekuni dan mendalami musik dan instrumen kendang.

    Salah satu yang tersirat dari misi KlabJazz “memasyarakatkan musik jazz” adalah memperkenalkan musisi-musisi jazz pendatang baru ke khalayak masyarakatnya. Oleh karena itu kehadiran Riza Arshad & Tohpati cs., yang notabenya telah dikenal luas ini merupakan momentum yang tepat untuk sekaligus memperkenalkan beberapa musisi jazz kota Bandung ke masyarakatnya. Keinginan KlabJazz untuk memberi kesempatan musisi-musisi kota Bandung tampil dalam sebuah “Kelompok Pembuka” pada saat pementasan simakDialog disetujui oleh Riza Arshad dua minggu sebelum waktu pementasan. Tawaran pertama diberikan kepada kelompok ARAB (Ali, Rudy, Ari dan Boyke) menimbang mereka pernah menawarkan diri menjadi kelompok pembuka. Setelah ARAB mengkonfirmasi bahwa mereka tidak jadi tampil, Krishnan Mohamad adalah musisi pertama yang menyanggupi untuk mengisi peran “Kelompok Pembuka”, oleh karena nama yang akan tampil sudah harus diserahkan ke bagian publikasi untuk dimuat di poster , Krishnan Mohamad Project adalah nama yang cukup memadai pada saat itu untuk mengisi nama “Kelompok Pembuka”. Beberapa nama sempat dihubungi, namun pada akhirnya drummer Henky, biolinis Nia dan akordeonis/vokalis Tiwi yang muncul melengkapi Krishnan pada gitar akustik. Waktu yang tersedia bagi mereka untuk “saling mengenal” hanya ada 2 minggu, atau kira-kira 6 kali pertemuan. Tetapi pada prakteknya, keempat musisi ini bersama-sama hanya sempat bertemu 2 kali. Kenyataan yang memang mengundang kekhawatiran.. Bahkan rencana latihan terakhir pada hari-H di lokasi pun, karena satu dan lain hal tidak sempat diselenggarakan. Set drum yang seharusnya sudah disetting pada saat check sound terakhir, baru tiba di lokasi satu jam sebelum pertunjukan dimulai. Dan ini hanyalah satu dari beberapa kekhawatiran lainnya yang dirasakan oleh KlabJazz di hari-hari menjelang berlangsungnya penyelenggaraan.

    Penyelenggaraan jazzsphere@artspace merupakan penyelenggaraan perdana KlabJazz untuk sebuah penyelenggaraan yang berskala besar. Ini juga berlaku bagi Selasar Sunaryo Art Space bagi penyelenggaraan musik apresiatif seperti musik jazz ini. Apapun yang akan kami hadapi di malam penyelenggaraan akan menjadi malam yang sangat menentukan bagi kedua belah pihak. Terlebih lagi jazzsphere@artspace diselenggarakan di Amphitheater yang terbuka di awal bulan bermusim hujan yang beberapa hari sebelumnya telah memperlihatkan tanda-tandanya.

    Hal lain yang ‘sedikit’ mengundang kekhawatiran adalah adanya animo yang sangat besar dari khalayak peminat musik jazz. Empat hari sebelum hari-H tanda masuk yang mulai dikeluarkan seminggu sebelum hari-H pun telah habis dipesan. Menimbang kebiasaan Selasar Sunaryo Art Space yang hampir tidak pernah mengeluarkan tanda masuk alias cuma-cuma, kemungkinan terkumpulnya massa peminat musik jazz pada hari-H di lokasi pertunjukan tentunya besar. Akhirnya panitya berinisiatif untuk mengeluarkan tanda masuk tambahan (berdiri) yang akan dikeluarkan satu jam sebelum penyelenggaraan dimulai.

    PENYELENGGARAAN
    Walau beberapa kehawatiran yang sifatnya minor, seperti misalnya: beberapa kali feedback yang terjadi pada Krishnan Mohamad Project, akibat setting sound untuk peralatan tambahan bagi Krishnan Mohamad Project yang memang tidak sempat dilakukan. Eksekusi kerjasama antara pemusik Krishnan Mohamad Project yang terdengar masih jauh dari standar minimal untuk sebuah pertunjukan berskala jazzsphere@artspace, dan tata cahaya bagi penonton yang berkesan minimalis (walau diakui oleh Riza Arshad bahwa ia justru menyukainya). Secara keseluruhan acara jazzsphere@artspace boleh dikatakan sukses. Kekhawatiran akan turunnya hujan yang akan berakibat fatal bagi penyelenggaraan pun tidak terjadi. Alhamdulillah.

    19.30
    Walau tanda masuk sudah habis terpesan, namun tepat pukul 19.30 Amphitheater terlihat masih belum terisi penuh. Beberapa laporan mengatakan bahwa di beberapa tempat kota Bandung saat itu, bahkan di sekitar Jl. Dago hujan turun dengan lebatnya. Beberapa orang bahkan membatalkan keberangkatannya karena beranggapan bila di tempat mereka turun hujan (tinggal di daerah KPAD Gerlong, Setiabudhi), di Selasar Sunaryo pun demikian. Baru pada pukul 19.45, seluruh sudut Amphitheater terlihat sudah terisi. Untuk menciptakan atmosphere sebuah konser jazz, sejak pukul 19.15 KlabJazz melengkapi penyelenggaraan malam itu dengan menayangkan melalui proyeksi komputer ke layar lebar di atas-belakang panggung beberapa ‘slide show’, di antaranya ‘slide’ “Riwayat JAZZ Selayang Pandang” dan ‘slide’ “jazzsphere@artspace”, diiringi dengan musik dari CD Pat Metheny Trio (Warner Bros.) yang sengaja dipilih karena mampu menciptakan suasana malam jazz yang akrab, di samping juga memiliki sound yang tidak sama dengan kelompok-kelompok yang akan tampil pada saat itu, namun juga tidak berkesan kontras.

    19.45
    Pukul 19.45, jazzsphere@artspace pun dibuka. Setelah berbasa-basi menyambut kedatangan khalayak yang memadati Amphitheater yang berkapasitas sekitar 200 orang, MC terlebih dahulu memberi kesempatan kepada Pak Sunaryo selaku pemilik Selasar Sunaryo Art Space untuk memberikan sekedar sambutannya yang digunakan oleh beliau untuk menerangkan latar belakang mengapa Selasar Sunaryo Art Space baru menyelenggarakan pertunjukan musik jazz, setelah memasuki usia Selasar yang ke-6 pada 5 September yang lalu.

    Usai sambutan Pak Sunaryo, MC pun memanggil Krishnan Mohamad Project untuk membuka malam jazzsphere@artspace diiringi dengan tayangan ‘slide’ singkat berisi informasi mengenai personil dan repertoire yang akan mereka bawakan pada malam itu yang diproyeksikan melalui layar lebar pada salah satu sudut Amphitheater.

    19.50
    Krishnan Mohamad Project (KMP).

    Format gitar akustik, drum, akordeon dan biola harus diakui merupakan format yang beresiko, walau tidak menutup kemungkinan terjadinya sebuah terobosan bila kerjasama di antara pemusiknya terjadi secara alami. Namun mungkin waktu yang disediakan bagi mereka relatif terlalu singkat, dan dari yang tersedia pun tidak tergunakan secara efektif. Hasil ‘terobosan’ yang diharapkan dari format Krishnan Mohamad Project pun belum bisa dirasakan oleh penonton. Kendala teknis yang terjadi di awal-awal pertunjukan mau tidak mau mempengaruhi suasana hati bermain mereka. Bila saja waktu yang tersedia cukup panjang bagi mereka berlatih, kemungkinan “chemistry” antara pemain pun bisa terjadi, dan itu adalah bekal utama untuk keberhasilan sebuah “working group”. Bila berhasil, menilik dari para pemain dan latar belakang musikalnya; Krishnan pada gitar akustik dengan jazz dan klassiknya, Tiwi pada akordeon dan vokal dengan “world music”nya, Henky pada drum dengan bebopnya, dan Nia pada biola dengan pop dan popklassiknya, bisa dipastikan bisa menanamkan kesan yang mendalam pada khalayak yang menyaksikannya. Malam itu KMP membawakan repertoar; “Waltz for Debby” (Bill Evans), “Spain” (Chick Corea), “Tema di G” (Krishnan Mohamad) dan “Because of You” (Keith Martin).

    20.20
    simakDialog

    simakDialog didirikan oleh pianis, keyboardis dan akordeonis Riza Arshad bersama drummer Arie Ayunir, gitaris Tohpati dan bassis Indro pada tahun 1993. Hingga saat ini mereka telah merilis tiga buah album; “Lukisan” dirilis tahun 1996, “Baur” dirilis tahun 1999 dan “Trance/Mission” dirilis tahun 2002. Sejak album “Trance/Mission” elemen musik yang memperkaya konsep musik mereka ditambah dengan kehadiran instrumen tradisi Sunda, kendang. Pada formasi terakhir ini, penabuh kendang Jalu G. Pratidina digantikan oleh penabuh kendang “asli” bernama Endang Ramdan, sementara Adhitya penuh mengisi pos bass dan drummer samasekali ditiadakan. Secara keseluruhan penampilan simakDialog malam itu “sempurna!”, kalau ada pendapat-pendapat lain, tidak mengubah ke”sempurna”an yang telah disebutkan tadi.

    Pendapat-pendapat lain yang sempat dihimpun itu di antaranya:
    “..Tohpati bermain sangat sempurna, kecuali saat ia menggunakan banyak efek pada gitarnya.., lain kali kalau bisa kurangi mengandalkan efek…”.

    “Tentu saja Endang Ramdan bermain begitu memikat karena memang pemain kendang manapun bila bermain pada format elektrik jazz seperti simakDialog akan terlihat begitu menyolok…”.

    “Adhit, pas benar bermain sebagai pengiring, salah satu bukti bahwa keberhasilan sebuah grup tidak selalu mengandalkan pada improvisasi setiap pemain…”.

    “Riza … hmm, boleh dibilang ‘tidak tercela’, membuat saya penasaran bagaimana kalau suatu waktu ia tampil bersolo piano…”.

    Etc., etc..


    Malam itu simakDialog membawakan 9 buah karya mereka, satu (“Zaman Telah Berganti”) diangkat dari album perdana mereka ‘Lukisan’, album yang sudah tidak lagi bisa diperoleh di pasar, satu (“One Has To Be”) diangkat dari album ke-2 ‘Baur’, empat dari album terakhir ‘Trance/Mission’, dan tiga (“Kemarau”, “Spur of the moment” dan “Worth Seeing”) merupakan karya-karya terbaru mereka yang akan dimuat pada album ke-4 mereka, yang rencananya baru akan dirilis awal tahun 2005 mendatang (saat sekarang mereka tengah keluar-masuk studio untuk proses perampungannya).

    22.10
    SELESAI

    :: Dwi Cahya Yuniman, 20 Oktober 2004.


    Apa & Siapa

  • Sebuah Quartet di Rumah Buku | 2004 08 01

    Rumah Buku, Jl. Hegarmanah no. 52, Bandung.

    Untuk pertama kalinya, sejak pertemuan Klab Jazz mingguan dimulai pada 9 Mei 2004, KlabJazz menyelenggarakan pertunjukan musik di luar tempat pertemuan. Menampilkan Sebuah Quartet; Krishnan Mohamad pada gitar akustik, Hery Wijaya pada bass acoustic, Adjierao pada perkusi dan Tatang pada gitar. Diselenggarakan pada tanggal 1 Agustus 2004 di Rumah Buku, Jl. Hegarmanah. Kehadiran Klab Jazz merupakan jawaban atas undangan Klab Baca melalui Tarlen Handayani, sebagai bentuk partisipasi Klab Jazz (mewakili komunitas jazz) pada penyelenggaraan Book Day’s Out, yang diselenggarakan oleh komunitas buku, dalam hal ini Klab Baca.

    Upaya merealisir “Sebuah Quartet” di Rumah Buku.

    Menjawab permintaan Tarlen dari Tobucil kepada KlabJazz untuk bisa menghadirkan akustik gitaris Krishnan Mohamad pada acara Book’s Days Out, Minggu, 1 Agustus 2004, KlabJazz (Niman dan Dewi Yunus) menghubungi Krishnan di kediamannya di Jl. Bukit Dago Utara, Senin 26 Juli 2004. Sambil menunjukan rancangan rencana program KlabJazz ke depan, KlabJazz memperoleh persetujuan Krishnan untuk tampil di acara ini. Hanya saja ia berharap ia tidak tampil sendiri. Seketika itu juga nama penabuh perkusi Adjierao muncul dalam benak kita semua. Adjierao, dalam sebuah pertemuan KlabJazz di CommonRoom sempat berduo dengan Krishnan. Sepertinya jalinan antara keduanya pun dengan mudah terbentuk. Jawaban “oke” pun langsung Klab Jazz terima dari Adjierao. Dengan harapan bisa membentuk sebuah kelompok yang lebih “lengkap”, Krishnan menghubungi akustik bassis Rudi Aru untuk turut bergabung, kesibukan Rudi menutup kemungkinan bagi Rudi untuk gabung. Sebagai gantinya, Krishnan memperoleh persetujuan akustik bassis lain bernama Hery Wijaya. Ternyata dalam beberapa kesempatan di café Atmosphere, Klab Jazz sempat juga menyaksikan Hery bermain bersama F.A.K.T.A (home band Café Atmosphere). Sementara itu dalam suatu kesempatan lain di café&resto JAMZ, di Jakarta tiga minggu sebelumnya, Selasa, 6 Juli 2004, saat Klab Jazz diundang saxoponis Arief Setiadi menyaksikan permainannya bersama grupnya Yance Manusama, Funky Thumbs, Klab Jazz diperkenalkan oleh keyboardist FT, Glen Dauna kepada seorang kawannya yang katanya juga berasal dari Bandung, yang bernama Tatang. Kang Tatang sempat bercerita bahwa ia di Bandung kerap bermain di Rumah Kopi, café mungil di kawasan Ranca Kendal, Bandung Utara. Klab Jazz sempat bertukar nomer HP dengannya, “just in case”. Dan ternyata dengan nomer itu Klab Jazz dapat mengontak kang Tatang dan minta kesediannya untuk bergabung.., dan Kang Tatang pun segera menyanggupinya. Kita semua merencanakan untuk bertemu pada klinik jazz mas Imam Pras di rumah kediaman Rudi Zulkarnaen. Di situlah untuk pertama kalinya kita berempat bertemu. Krishnan, Tatang dan Hery menggunakan kesempatan itu juga untuk berlatih bersama. Hadir saat itu; pianis Imam Pras dan Yahya, bassis Rudi Aru, drummer Ari Aru, dan Yudi, gitaris Rizki, biolis Amy, saxoponis Ria, seorang trompetis muda dan seorang gitaris muda lainnya, di samping Krishnan, Tatang dan Hery.

    Hari Jum’at, 30 Juli 2004, di rumah kediaman sekaligus studio Hery, Krishnan, Tatang dan seorang pianis senior, kawan lama kang Tatang yang diajak serta untuk hadir bernama Iswandi mulai berlatih. Sementara Adjierao berhalangan dikarenakan kesibukannya mengajar. Klab Jazz hadir juga untuk memberi dukungan semangat (walau kemudian ternyata sepertinya tanpa dukungan pun mereka telah mampu memperlihatkan kemampuan kerjasamanya yang cukup baik). Beberapa karya standard mereka gunakan untuk latihan. Di antaranya Invitation, So What? (Miles Davis), The Girl from Ipanema(A.C. Jobim), Dark Eyes (Trad), I Remember You, Valentine,Mediterranean Sundance (Al Di Meola), Take 5 (Dave Brubeck), dll.

    Sebenarnya Klab Jazz sudah memesan tempat di Common Room untuk latihan bersama terakhir untuk hari Sabtunya, namun karena umumnya mereka semua berhalangan, hanya Krishnan dan Adjierao yang menggunakan kesempatan terakhir untuk berlatih.

    ……………….
    Catatan 2010:
    – Pertemuan dengan Arief Setiadi di Jamz tersebut di atas adalah dalam rangka meminta Arief untuk membantu usaha Klab Jazz untuk melobby Indra Lesmana Quartet (Arief Setiadi adalah salah seorang personilnya) untuk tampil di jazzsphere@artspace perdana di Selasar Sunaryo, Oktober tahun itu. Indra Lesmana Quartet urung, sebagai gantinya pada kesempatan di jazzsphere@artspace tahun 2004 itu tampil simakDialog.
    – Saat itu penulisan nama Rudy Aru masih sering ditulis Rudi ..
    – Klinik Jazz Imam Pras saat itu merupakan “happening” bagi kita yang meminati musik jazz, pemusik jazz muda pada khususnya.

    :: Dwi Cahya Yuniman, 3 Agustus 2004.


    Apa & Siapa

  • Jazz Break Revival XIX

    03/02/10. Klab Jazz, bekerjasama dengan Melinda Hospital, dan Bumi Sangkuriang kembali menyelenggarakan Jazz Break Revival. Dan untuk edisi ke XIX ini bekerjasama dengan Melodia Music Studio akan menyelenggarakan “workshop” sederhana bertema “Jazz Basics” bersama seorang pendidik musik jazz senior dari University of Sydney – Conservatorium of Music, Ms./Ibu Julie Spithill. | Selengkapnya…


    Agenda, Poster

Arsip Klab Jazz